Lelaki
itu tengah asyik berkutat dengan tabletnya,
matanya lincah membaca kalimat demi kalimat berkas beasiswa yang ia terima dari
perusahaan tempatnya bernaung. Tak lama ia membubuhkan tanda tangan dan namanya
di kolom paling bawah draft itu. Kemudian sebuah senyuman mengembang di bibir
seorang Erlangga Adi Satria, pertanda ia puas dengan hasil pekerjaannya.
Terbayang dibenaknya dalam waktu kurang
dari dua bulan ia akan menempuh perjalanan panjang menuju benua Australia.
“triing..”,
masuk sebuah notifikasi permintaan pertemanan di media sosialnya. Ia membuka
notifikasi tersebut tapi tampak tidak begitu tertarik. Jemarinya tanpa sengaja
membuka panel beranda dan menampilkan berita yang paling baru di post oleh temannya. Sejenak ia
mengernyitkan dahi dan mulai satu demi satu.
Tampak
beberapa foto perempuan yang ia kenal bersama dengan seorang laki-laki yang
mungkin adalah kekasihnya. Bukan hal yang aneh, hanya saja terlalu banyak
pertanyaan yang muncul di benak lelaki bernama Erlangga itu.
Aira,
ia adalah kekasih yang sempat mengisi
hati seorang laki-laki bernama Erlangga yang tadi aku sebutkan beberapa tahun
yang lalu. Bersama Aira, Erlangga menjalani kehidupan selama 7 tahun masa sulit
dan senang. Keduanya saling memiliki dan mencintai satu sama lain walaupun
memiliki latar belakang adat yang berbeda. Sampai akhirnya mereka kemudian
berpisah karena menyadari bahwa cinta mereka tidak mungkin dipersatukan dan
tidak ingin dianggap durhaka terhadap ibunya. Tapi yang selama 7 tahun itu tak pernah
satupun foto kebersamaan mereka berdua di unggah
di media social milik Aira.
Sekarang
ia mendapati kenyataan yang lain, Aira dengan mudah mengunggah foto-fotonya
dengan lelaki itu tanpa menyadari ada seseorang yang sedikit banyak merasa
terluka. Walaupun sebenarnya Erlangga tahu kondisi Aira dan lelaki itu memiliki
cerita yang sama yang sempat dijalani olehnya dahulu. Aira pernah menceritakannya satu waktu. Tidak semua yang mereka alami aku
ceritakan disini, tapi mereka sempat dekat setelah berpisah sampai pada
akhirnya Erlangga memutuskan untuk menghilang dari kehidupan Aira untuk menjaga perasaannya
agar tidak semakin terluka.
Muncul
prasangka di benak Erlangga “Apakah Aira benar mencintai aku ketika itu?”,
“Mungkinkah ia malu terhadapku..ataukah…ataukah..” dan semakin banyak prasangka
yang datang. Aku tahu ia kecewa dan sedikit perasaan terluka karena pada
kenyataannya memori akan luka yang pernah dihadirkan oleh Aira kembali
menyeruak. Tapi Erlangga lalu menepis semua prasangka itu.. yang ia tahu Aira
adalah masa lalunya. Pahit atau manis masa lalunya, itu yang mengantarkannya di
titik yang sekarang. Hatinya mungkin pernah terluka tapi dari situ ia belajar
untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Ia mungkin pernah terjatuh tapi dari situ
ia belajar untuk bangkit. Ada sedikit penyesalan dalam hatinya karena telah
mengikuti rasa ingin tahunya akan foto Aira itu,tapi ia tahu bahwa sesuatu
terjadi karena sebuah alasan dan ia semakin
tega membunuh kepedulian dan hatinya akan segala sesuatu tentang Aira,
perempuan yang pernah dengan sangat ia cintai. Dan aku, aku adalah sepercik
memori Erlangga akan Aira yang berusaha ia tinggalkan bertepatan dengan
kepergiannya ke negeri kangguru itu.
-Denpasar, 190415 –






