RSS
Showing posts with label Récit. Show all posts
Showing posts with label Récit. Show all posts

Satu

Kalaupun pada akhirnya
Kamu tidak bersatu dengan orang yang
selalu kamu sebut namanya dalam doa.
Kamu mungkin akan dipersatukan
dengan orang yang selalu menyebut namamu dalam doanya.



-Seminyak, 190415-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Lamaran

“Gue dilamar Rega!”kataku pada Vina yang sedang asyik memainkan ipad kesayangannya.

“Hah?!! Trus lo jawab apa? Apalagi yang elo tunggu, Disa? Ntar keburu Rega ngga mau sama elo.” tanyanya sambil kemudian mendekatiku. Belum sempat aku menjawab, ia kembali memberondong dengan pertanyaan. “Kalian udah sama-sama punya penghasilan, usia udah cukup, kenal udah lama, keluarga juga udah saling tau. Trus mau kapan?”

“Iya gue tau Vinaaa, tapi..”ujarku.

“Tapi apalagi? Temen - temen seusia kita udah pada gendong anak, minimalnya udah menikah dan ada pendamping hidup. Gue aja udah mau married!” tukasnya cepat.

“Pernikahan bukan sebuah perlombaan siapa yang paling cepat adalah sang pemenang, karena justru kita berlomba untuk bisa langgeng sampai maut memisahkan kita sama pasangan kita. Karena gue pengen menikah hanya satu kali seumur hidup gue dan gue ngga mau salah memilih pasangan hidup gue. Dan dia satu pemikiran sama gue.” jawabku.

“Kalo gitu apalagi yang lo pertimbangin? Apa Rega kurang ganteng? Kurang macho? Kurang kaya? Kurang apalagi?" tanyanya gemas.

“Bagi gue fisik hanya pendukung. Kalo gue cuma jatuh cinta sama fisik, ketika dia tua dan keriput nanti gue akan mudah ninggalin dia. Kalo gue jatuh cinta karena materi, ketika dia udah ngga punya apa-apa gua bakal gampang ngelepasin dia dan secara finansial gue juga punya penghasilan sendiri jadi gue ngga ngeliat itu semua. Gue udah ngeliat Rega berkorban begitu banyak buat gue.. gue ngerasain sayangnya dia ke gue tuh tulus dan bener-bener gede, bukan semata-mata cuma karena dia pengen jadi pendamping gue. Cuma..”jawabku kemudian.

“Ya terus mau nungguin apalagi? Ntar kburu Rega ngga mau nikahin elo”, ucapnya.

“Gue percaya sama ketentuan Tuhan..”

“Takdir maksud elo?”, ia memotong cepat.

“Iya, gue percaya Tuhan tau yang terbaik buat hambanya. Kalo emang Rega buat gue, cepat atau lambat Rega pasti akan jadi milik gue dan bukan milik orang laen. Begitupun sebaliknya kalo bukan buat gue, mau segimanapun gue keukeuh dia ngga akan jadi milik gue. Whoever is meant to be there, will still be there. You just have to trusted God knows what we need better than us. Makan yuk ah gue laper!”, ajakku.

“Etapi trus lo jawab apa?”, seakan tersadar pertanyaannya belum mendapatkan jawaban, Vina mengulang pertanyaannya.

“Doain aja supaya mimpi gue dilamar Rega, besok ato lusa jadi kenyataan..”ujarku kemudian.

“Whaaaaaat??”



-Seminyak, 180415-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Delete

“Bienvenue dans mavie, tout est brilliant ici.. “ terdengar suara panggilan masuk dari ponsel perempuan itu. Ia yang sedari tadi sedang mengerjakan pekerjaan kantornya, dengan sedikit malas kemudian beranjak dari kursinya mendekati tempat tidur dimana ponselnya berada.

Angga.. nama itu tertera dilayar ponselnya.  Dengan sedikit mengernyitkan dahi ia menekan tanda reject di ponselnya. Belum sempat ia beranjak, ponselnya kembali berdering dengan nama yang sama. Ia kemudian menekan tombol yang sama seperti sebelumnya.
Angga, sebuah nama yang selalu membangkitkan kenangan di benak perempuan itu. Sebuah nama yang pernah membuat hidupnya begitu bahagia, pun menjadi sebuah nama yang pernah meninggalkan luka yang menganga di hatinya. Kini nama itu muncul kembali di layar ponselnya, sekian lama mereka tidak pernah berkomunikasi setelah kejadian terakhir beberapa tahun lalu. Dengan suara yang dibuat setenang mungkin ia kemudian menjawab panggilan itu.
               
“Halo!” ucapnya.

“Halo April, apa kabar?” terdengar suara diseberang sana,masih dengan kehangatan yang sama seperti beberapa tahun yang lalu.

“Baik, kamu apa kabar?” perempuan itu berusaha berbasa-basi.

“Aku baik, lagi apa nih? Ganggu ngga aku telepon kamu?”

“Hmm, lagi ngerjain kerjaan kantor ada yang mesti aku siapin buat meeting besok.  Ada apa nih, tumben nelepon aku? Ada yang bisa aku bantuin?” jawab perempuan itu.

“Ah ngga, lama aja ngga denger kabar kamu. Daripada aku denger berita simpang siur kan mendingan aku cari tahu sama orangnya langsung, lagian aku kangen sama kamu.” Ucap suara di seberang sana seolah tanpa beban.

Dengan perasaan yang sedikit tak menentu perempuan itu kemudian menjawab “Ah kamu gombal, becanda aja ah. mana mungkin kamu kangen sama aku.”

“Serius aku kangen sama kamu,  aku kangen semua tentang kamu.”

Perasaannya semakin tak menentu mendengar jawaban hangat laki-laki yang tak pernah berhenti ia cintai. Dengan suara yang dibuat setenang mungkin ia berusaha mengalihkan pembicaraan “ Eh apa kabarnya Rara? Kamu masih sama dia kan?”

“…” hening

“Angga, are you okay?” tanya perempuan itu kemudian.

“… I’m fine April, kabar Rara terakhir baik tapi aku ngga tau kabarnya sekarang.” Jawabnya.

“ Loh ko bisa gitu?” tanya perempuan itu.

“Tiga bulan sejak kejadian malam itu, aku ninggalin Rara. Dia yang pernah aku pikir bisa gantiin kamu, ternyata malah semakin bikin aku ngga bisa berhenti mikirin kamu. Aku merasa sangat bersalah sama kamu. Aku berusaha bikin kamu benci aku dengan ngejadiin Rara sebagai alasan kita berpisah, tapi ternyata tak mampu membuat aku menepis bayangan kamu. Semua sudah aku coba untuk ngelupain kamu tapi aku ngga bisa. Bahkan beberapa tahun ini aku berusaha untuk menyibukkan diri dengan memulai kembali hobiku, membuka diri mendekati perempuan lain dan berusaha untuk menjauhkan diriku dari semua yang berhubungan dengan kamu tapi nyatanya itu tak mudah. Terlalu banyak kenangan yang pernah kita lalui, dan terlalu jauh aku mencintai kamu sampai aku ngga bisa lepas dari kamu. Sampai saat ini aku masih mencintai kamu, April. Kamu yang selalu menjadi penyemangatku. ” jelas suara diseberang sana tanpa diminta.

“Aku kangen kamu, kangen senyuman kamu, marahnya kamu sama aku, aku kangen semua tentang kamu..” ujarnya kemudian, berusaha membuka kembali kenangan yang pernah ada diantara mereka.

April terhenyak mendengar pengakuan dari lelaki itu. Ada sedikit perasaan rindu akan kehadiran Angga di hidupnya, tetapi ia segera menepis perasaan itu. Bukan karena ia tak lagi mencintai laki-laki itu, walaupun ia pernah terluka tapi perasaannya terhadap Angga tak pernah berubah. Hanya saja, ia tak ingin terluka untuk kedua kali dengan alasan yang sama. Ia telah menerima dengan sadar bahwa jika ia memang berjodoh dengan Angga, maka Tuhan akan menuntun mereka untuk bersatu kembali.

Ia meraih sebuah foto disamping tempat tidurnya. Dipandanginya foto itu untuk beberapa lama, Rafi kekasihnya yang selama setahun terakhir mengisi kekosongan dihidupnya dan menjadi teman disaat ia terpuruk oleh cintanya terhadap Angga.

“April, are you there?” terdengar suara Angga diseberang sana.


“…” perempuan itu hanya terdiam dan menjawab dalam hatinya “Sorry Angga, the memories that you request has been deleted by the other person that related to..



-Bogor, 010215-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tanda Tanya

Lelaki itu tengah asyik berkutat dengan tabletnya, matanya lincah membaca kalimat demi kalimat berkas beasiswa yang ia terima dari perusahaan tempatnya bernaung. Tak lama ia membubuhkan tanda tangan dan namanya di kolom paling bawah draft itu. Kemudian sebuah senyuman mengembang di bibir seorang Erlangga Adi Satria, pertanda ia puas dengan hasil pekerjaannya. Terbayang dibenaknya dalam  waktu kurang dari dua bulan ia akan menempuh perjalanan panjang menuju benua Australia.

“triing..”, masuk sebuah notifikasi permintaan pertemanan di media sosialnya. Ia membuka notifikasi tersebut tapi tampak tidak begitu tertarik. Jemarinya tanpa sengaja membuka panel beranda dan menampilkan berita yang paling baru di post oleh temannya. Sejenak ia mengernyitkan dahi dan mulai satu demi satu.

Tampak beberapa foto perempuan yang ia kenal bersama dengan seorang laki-laki yang mungkin adalah kekasihnya. Bukan hal yang aneh, hanya saja terlalu banyak pertanyaan yang muncul di benak lelaki bernama Erlangga itu.

Aira,  ia adalah kekasih yang sempat mengisi hati seorang laki-laki bernama Erlangga yang tadi aku sebutkan beberapa tahun yang lalu. Bersama Aira, Erlangga menjalani kehidupan selama 7 tahun masa sulit dan senang. Keduanya saling memiliki dan mencintai satu sama lain walaupun memiliki latar belakang adat yang berbeda. Sampai akhirnya mereka kemudian berpisah karena menyadari bahwa cinta mereka tidak mungkin dipersatukan dan tidak ingin dianggap durhaka terhadap ibunya.  Tapi yang selama 7 tahun itu tak pernah satupun foto kebersamaan mereka berdua di unggah di media social milik Aira.

Sekarang ia mendapati kenyataan yang lain, Aira dengan mudah mengunggah foto-fotonya dengan lelaki itu tanpa menyadari ada seseorang yang sedikit banyak merasa terluka. Walaupun sebenarnya Erlangga tahu kondisi Aira dan lelaki itu memiliki cerita yang sama yang sempat dijalani olehnya dahulu. Aira pernah menceritakannya  satu waktu. Tidak semua yang mereka alami aku ceritakan disini, tapi mereka sempat dekat setelah berpisah sampai pada akhirnya Erlangga memutuskan untuk menghilang  dari kehidupan Aira untuk menjaga perasaannya agar tidak semakin terluka.


Muncul prasangka di benak Erlangga “Apakah Aira benar mencintai aku ketika itu?”, “Mungkinkah ia malu terhadapku..ataukah…ataukah..” dan semakin banyak prasangka yang datang. Aku tahu ia kecewa dan sedikit perasaan terluka karena pada kenyataannya memori akan luka yang pernah dihadirkan oleh Aira kembali menyeruak. Tapi Erlangga lalu menepis semua prasangka itu.. yang ia tahu Aira adalah masa lalunya. Pahit atau manis masa lalunya, itu yang mengantarkannya di titik yang sekarang. Hatinya mungkin pernah terluka tapi dari situ ia belajar untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Ia mungkin pernah terjatuh tapi dari situ ia belajar untuk bangkit. Ada sedikit penyesalan dalam hatinya karena telah mengikuti rasa ingin tahunya akan foto Aira itu,tapi ia tahu bahwa sesuatu terjadi karena sebuah alasan dan ia semakin  tega membunuh kepedulian dan hatinya akan segala sesuatu tentang Aira, perempuan yang pernah dengan sangat ia cintai. Dan aku, aku adalah sepercik memori Erlangga akan Aira yang berusaha ia tinggalkan bertepatan dengan kepergiannya ke negeri kangguru itu.



-Denpasar, 190415 – 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rela

“Kamu tau apa yang kamu lakukan?” tanya Evan sore itu. “Sebagai sahabat, aku ngga ingin ngeliat kamu seperti ini.”

“Iya” jawabku.

“Tahu apa akibatnya?” tanyanya kemudian seolah hendak menahanku untuk tidak mempertahankan hubunganku dengan Arvin yang sedang goyah. Ia tahu betul hancurnya perasaanku ketika tahu Arvin bermain api dengan orang yang dia kenalkan sebagai teman kantornya. Sementara hubunganku dengan Arvin sudah berjalan lebih dari 6 tahun dengan tanpa pertengkaran besar.

“Iya..” jawabku pendek. Evan menatapku lekat seolah tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.

“Apa yang membuatmu bertahan, Div?” ujarnya.

“Cinta dan sayang..” jawabku. Evan yang duduk disebelahku hanya menggelengkan kepalanya masih dengan tatapan tidak percaya pada jawabanku. Wajar saja dia bertingkah demikian mengingat semua kejadian yang menimpa pada hubunganku dengan Arvin. Evan menjadi satu-satunya tempatku mengadu, ia adalah saksi hidup perjalanan cintaku dengan Arvin. Iapun seolah ikut merasakan kepedihan hatiku kala itu. Jelas jika ia tidak setuju dengan sikapku yang terlihat selalu diam terhadap kelakuan Arvin.

“Jika dia melepasmu?” tanyanya kemudian

“Aku lepas dia..” jawabku perlahan. Terlintas kejadian demi kejadian yang memporak porandakan hati menjadi serpihan tak berbentuk oleh perilaku Arvin, kekasihku. Pun ketika aku telah berusaha menyatukan kembali serpihan itu, Arvin kembali membuatnya terberai. Seketika mataku terasa hangat oleh genangan airmata yang belum sempat terjatuh.

“Jika dia tidak melepasmu?” sambungnya.

“Aku tidak akan melepasnya..”

“Mengapa kamu jadi seperti ini, Diva?” tanyanya lembut berusaha mencari arti dari jawabanku.

“Aku lelah untuk mengenal yang lain..” ujarku sambil tertunduk dan menahan tangis yang sejak tadi akan tumpah.

“Kalau dia belum lelah sepertimu?”

“Aku akan merelakan apa yang bukan menjadi milikku… God knows who belongs in my life and who doesn’t. I try to trust and let go. Whoever is meant to be there, will still be there.” jawabku berusaha tegar dengan tangis yang tertahan.



- Jakarta, 240115 -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Terbaik

“Aku sayang sama kamu, melebihi apa yang kamu ketahui tentang aku Shaira..”, pria itu mencoba meyakinkan wanita dihadapannya.

“Emm…”,hanya itu kata yang meluncur dari bibir mungil wanita itu.

“Aku serius sayang.. tak pernah sedetikpun aku berhenti memikirkan kamu, sampai saat ini. Aku menyesali semua yang pernah terjadi di antara kita. Aku menyesali perpisahan itu. Hidupku bahkan tidak lagi sama seperti saat bersama kamu.”,lanjut pria itu.

“Bukannya kamu yang menginginkan perpisahan itu?!”, ujar Shaira sambil memainkan sendok ice cream kesukaannya yang telah sedari tadi menggoda selera makannya.

“Aku tak pernah benar-benar menginginkannya sayang, kamu sendiri tahu itu..”

“Tapi sikapmu yang menduakanku tidak mendukung semua perkataanmu hari ini.”, potong Shaira. Pria itu hanya tertunduk lesu kemudian berkata, “Aku berusaha memberikanmu yang terbaik, membuatmu mengenal baik dan burukku. Hanya itu maksudku.”

“Memberikan yang terbaik dalam pengertianku adalah dengan tidak menyakiti perasaan orang lain, terlebih orang yang kita sayang dan tidak pernah membiarkannya terluka dengan segala sikap maupun ucapan kita. Lantas apakah dengan memberikan luka yang sama di tempat yang sama adalah cara memberikan yang terbaik dalam pengertianmu? Ataukah aku yang terlalu berharap besar terhadapmu bahwa kamu akan selalu menjadi pangeran terbaik yang pernah dimiliki oleh seorang perempuan?” ujar Shaira lemah.

“Apalagi yang kamu inginkan sekarang, David? Apa kamu sudah lelah mencari? Ataukah perempuan yang kamu kencani sekarang tak membuatmu berhenti  untuk mencari yang terbaik?”, lanjutnya.

“Aku.. aku tak bisa berhenti untuk selalu memikirkan kamu. Semuanya tak sama tanpa kamu. Dia yang kuharapkan bisa menggantikan kamu ternyata tak seperti yang kubayangkan. Aku bersalah kepadamu.. aku sangat mencintai kamu dan berharap kamu memafkan kesalahanku. Aku menyadari kesalahanku, kamu adalah nafasku.. aku tak pernah bisa lega tanpa ada kamu. Kehilangan kamu lambat laun membuat hidupku tak seimbang, aku terlambat menyadari bahwa kamu adalah yang terbaik dalam hidupku”, lelaki itu menatap sorot lembut sepasang mata hitam perempuan di hadapannya, mencoba menemukan kembali cinta dari perempuan yang tak pernah lepas dari hatinya.

“Sikapmu sudah terlalu menyakiti hatiku David, your  word mean nothing when your action are the complete opposite..”,ucap Shaira perlahan diiringin tatapan lekat dari lelaki yang selalu dicintainya. 



-Bogor, 281214-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Move Up

“Siapa sih sebenernya jodoh gue?”, celetuk Vanya pada Sasha sahabatnya di suatu sore di kedai kopi kesukaan mereka.

“Jodoh kan udah ada yang ngatur, Nya kenapa lu ribet amat sih?! Jodoh, kematian, peruntungan, rejeki & hal-hal lain yang ngga dimengerti oleh akal manusia kan udah diatur sama Tuhan. Setiap manusia punya garis takdirnya masing-masing Nya.”,ujar Sasha sampil menyeruput Vanilla Late miliknya.

“Gue ngerti, Sha Tuhan udah ngatur semuanya.. tapi kenapa sampe detik ini gue belum ketemu sama jodoh gue? Sementara orang laen kayaknya bisa dengan mudah dapetin pasangannya. Lha gue, udah pacaran sama Rafa, Rio, Surya, dll tapi belum ada satupun yang ngajakin gue serius.”ujar Vanya kemudian.

“Nya, kalo kata gue mereka tuh bukan ngga ada yang ngajakin lu serius tapi elunya aja yang belum mau serius sama mereka. Elu terlalu lama hidup dalam bayangan Adit. Gue tahu lu sayang banget sama Adit dan lu udah berharap banyak sama Adit, tapi lu harus sadar kalo dia udah jd suami orang yang dijodohin sama dia. Lu harus ngehargain istrinya bukannya terus mertahanin Adit untuk terus ada disamping lu atopun harus ada ketika lu butuh. Tuhan mungkin lagi nyiapin waktu yang tepat untuk elu ketemu sama jodoh lu” Jawab Sasha panjang lebar.

“Gue udah nerima semuanya Sha, cuma kadang gue mikir waktu itu Adit bisa aja nolak perjodohannya dan milih gue. Gue yakin dia lebih cinta sama gue.. gue ga bisa lepas dari Adit. Gue kadang iri sama temen-temen yang laen yang bisa dapetin pasangan yang dicintainya walopun mungkin kisah cintanya lebih sulit dari gue, kaya Vino-Rissa yang beda agama, Rasya-Fitri yang beda adat dan negara ato siapalah, sementara gue..?”, mata Vanya mulai berkaca-kaca dengan tangannya tidak henti mengaduk Strawberry milkshake yang dipesannya tadi.

“Ngga semua hal berjalan sesuai keinginan kita sayang. Mungkin itu yang terbaik buat kita, diajarkan rasa sakit untuk kemudian bahagia ataupun diajarkan jatuh untuk kemudian bangkit. Yang harus lu lakuin adalah move up, bukan cuma move on atopun stuck di lembaran ini. Masi banyak halaman kosong yang harus lu warnain di hidup lu. Masi banyak yang antri  buat serius sama lu asalkan lu mau peka. There will be many chapter in your life, don't get lost in the one you're in now. Dan satu hal yang harus lu inget many people never get what they deserve because they are too busy holding things they are supposed to let go, dear..”ujar Sasha kemudian sambil berusaha menenangkan Vanya yang kini hanyut dalam diamnya.    




-Bandung, 060115 -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Nyerah

Are you sure?” tanya Shakia sahabatku.
Yes, I’m sure.” Jawabku.
“Tapi dear, dia bukan satu-satunya laki-laki di dunia ini yang pengen jadi pendamping kamu! Look at him, he’s so not you!” ujarnya.
“Kenapa?” aku balik bertanya.
Please Petra, kamu bisa mendapatkan yang lebih dari dia. Dia bukan tipe kamu. Beda banget sama mantan-mantan kamu yang sebelumnya. Jauh beda sama Daffa.” Tukasnya kemudian.
Well..?” ujarku.
“Ya.. lantas kenapa kamu memutuskan untuk menerima lamarannya? Aku bisa cuma ngga habis pikir dengan apa yang kamu lakukan.” Jawabnya setengah bergumam.
“Hmm..” gumamku.
“Petra, aku tanya sekali lagi. Kamu yakin mau ngelakuin ini? Kamu yakin mau nikah sama Ardi? Kamu yakin ngasiin hidup kamu ke orang yang bahkan sama sekali ngga berjuang untuk ngedapetin kamu?”
“Iya..” jawabku.
Come on dear, I’m serious!”ujarnya.
“…”, “Shakia, I’ve learn a lot from the past. Mungkin benar seperti yang kamu bilang, Ardi tidak seperti mantan-mantan aku terdahulu. Satu hal yang harus kamu sadari bukan berarti dia ngga berjuang untuk ngedapetin aku. Walau tanpa kompetisi, tapi dia berjuang untuk ngedapetin hati aku dari diri aku sendiri. Biarpun selama ini aku ngga pernah ngasi perhatian ke dia, ataupun selalu ada pria lain yang mampir di hidupku..tapi dia ngga pernah benar-benar pergi dari hidupku.”
“Dan itu alasan kamu menerima lamaran untuk menjadi pendamping hidupnya?”
“Ngga, tapi aku menyerah. Aku yang nyerahin diri aku kepada dia.”  Ujar Petra sambil tersenyum.




-Bogor, 200914-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Let it Go

“Kenapa lagi lu, ngga cukup ditelepon? Ato udah bosen bermuram durja?” tanyaku sambil tersenyum pada sesosok pria yang sudah ku anggap sebagai sahabatku itu dan mengambil tempat dihadapannya.
“Gue suka sama dia, Na, sama Risa. Susah nyari cewek yang sama seperti gue yang gue suka.” Jawabnya tanpa basa-basi.
“Menurut gue, elo tuh sebenernya masih cinta sama Indah dan elo terlalu gengsi untuk mengakui itu. Risa hanya lu jadiin alat karena secara fisik & kebiasaan mereka berdua tuh mirip. Lebihnya Risa, dia satu keyakinan sama elo.” Ujarku.
Christian hanya terdiam dengan tatapan kosong mendengar perkataanku.
“Tian, gue tau sedalem apa perasaan elo sama Indah & gue juga tau gimana perasaan elo sama Risa. Apa elo yakin dengan selalu menyakiti perasaan Indah dan menghindar dari dia bikin elo tenang? Apa elo yakin dengan selalu memperhatikan Risa bakal bikin perasaan elo terhadap Indah bakal pudar? Gue kira ngga. Indah memang bakal menjauh dari hidup elo, tapi itu ngga akan ngilangin perasaan elo.” Tuturku kemudian.
“Gue.., entahlah gue pikir Risa bisa gantiin Indah di hidup gue. Gue takut buat ketemu sama Indah, gue takut kalo gue ketemu sama dia, gue pengen memiliki dia lagi sementara gue tau itu ngga mungkin. Gue terlalu sayang sama Indah walopun mungkin pada akhirnya sikap gue selalu bikin dia terluka.” Jawabnya sambil menyesap segelas Cappucino dihadapannya.
“Apa dengan Risa elo pikir lebih mungkin?” tanyaku penasaran.
“Seenggaknya dengan Risa, hanya adat yang jadi halangan.” Jawabnya.
 Kami sama-sama terdiam, sementara orang-orang semakin ramai menyesaki ruangan café ini.
“Tian, menurut gue udah saatnya lu menata hidup loe. Loe ngga bisa terus-terusan berharap pada orang yang udah jadi pasangan hidup orang lain. Pikirin perasaan pasangan Risa & keluarganya kalo tau keadaan yang sebenernya. Elo tuh cakep, baik, cewek mana yang bakal nolak elo? ELo cuma terlalu takut ngga bisa dapetin cewek seperti Indah ato Risa lagi di hidup elo. Mau sampai kapan elo bertahan di keadaan ini?”.
”Gue ngga bisa ninggalin Risa..”ujarnya.
“Kalo gitu gue ngga bisa bantu apa-apa lagi. Gua cm pengen ngeliat elo bahagia, tapi semua balik lagi ke diri elo sendiri. Satu hal yang elo lupain, sometimes the best way is to let it go and letting something go will give you everything. You just have to wait a perfect God time .” tuturku.
Ia hanya terdiam, masih dengan tatapan kosongnya. Entah pikirannya kembali berkelana pada sosok perempuan yang dicintainya, pada perempuan yang ia harapkan ataukah pada kebahagiaan yang akan ia dapatkan walau entah kapan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rangkaian Mimpi

“Kamu tidak pernah memahami apa yang kurasakan, Rasya.. Dalamnya rasa sakit yang aku rasakan karena perlakuanmu, dan pedihnya luka di hati ini.
Ribuan kali aku berusaha menepikan perasaan sayangku, ribuan kali pula aku mencoba menyangkal kalau aku masih sayang kamu, tetapi kenapa sekarang tiba-tiba kamu datang kembali? Apalagi yg kamu harapkan dariku?”.

“Aku mencintaimu, aku membutuhkanmu, itu yang selalu kamu bilang ketika aku mempertanyakan kesungguhanmu padaku. Tapi aku tak pernah merasakan hal yang sama seperti yang kamu katakan. Sikap dan ucapanmu selalu bertolak belakang, lantas apalagi yang harus aku percayai dari kamu?”

“Ucapmu kamu paham apa yang aku rasakan tapi kamu tidak pernah menjadi aku & kamu tidak akan pernah sedikitpun mengerti perasaan aku. Makanya kamu selalu melakukan hal yang sama, menyakiti perasaanku.”

“Masih terngiang jelas di telingaku ucapanmu dimalam ketika kita beradu argument karena kamu membela perempuan yang kamu bilang hanya sebatas teman bermain musik. Padahal aku tau kamu punya hubungan lain dengannya. Saat itu kamu bilang masaku untukmu sudah lewat..kini adalah masanya di hidupmu..dan ribuan kata lain yang membuatku terluka. Itu menjadi bagian dari rangkaian luka yang berkepanjangan buatku karena setelahnya, kamu datang kepadaku lagi dan sekarang kembali menemukan perempuan lain untuk kamu kencani dan pada akhirnya mencariku lagi.
Lantas apa artinya aku untuk kamu selama ini? Apakah hanya sebuah barang yang kamu simpan ketika kamu butuhkan dan kamu buang ketika kamu tak memerlukannya?”

“Aku tahu keyakinan membuat kita sulit untuk bersatu. Tapi aku selalu percaya ketika Tuhan berkehendak, maka tak ada yang tak mungkin.
Rasya, aku memberikanmu kesempatan untuk berubah karena aku percaya ada alasan lain dibalik semua sikap kamu. Hanya saja kali ini aku merasa lelah, terlalu lama hatiku kamu sakiti, luka yang kamu buat di masa lalu pun belum sempat mengering, kini kamu balut dengan luka yang lain.

“Memang kamu pernah berucap kalau aku adalah hidup kamu, aku adalah sebagian dari diri kamu, dan kata-kata lain yang dulu selalu membuatku percaya akan cintamu. Tapi itu tak berarti apa-apa..hanya sebuah kata-kata buatmu.
Hatiku lelah Rasya, semua yang aku lakukan tak pernah berarti dimatamu, kehadirankupun tak pernah kamu anggap.. Enam tahun aku mendampingimu dalam suka ataupun duka, tapi rasanya semua tak ada artinya..”

“Aku tak pernah menyerah terhadap kamu, tapi aku menyerah terhadap diriku.. Aku menyerah pada hati yang tak ingin lagi tersakiti..
Mungkin Tuhan mengirimmu hanya sebagai rangkaian mimpi buatku agar aku tersadar bahwa hidup tak selamanya indah..”, ucap Ayla pada sesosok pria dalam foto di genggamannya.



-Jakarta, 31.01.14-


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Récit

Lembaran itu berubah kusam
Menyerupai tumpahan hati
Yang terberai menjadi bagian kecil,
Menyisakan isak tangis yang tertahan

Aku menemukannya di sudut paling dasar,
di relung hatiku
Terdiam,
tanpa suara
Hanya berteman sepi dalam kegelapan
Menunggu sang waktu berbaik hati menjemput ajalnya.

Perasaan itu..
Aku menguburnya dalam kesunyian
Bertabur rindu yang membiaskan
Batasan cinta dan benci

Rasa sakit dan luka
yang tak pernah terobati
dan kehadiran yang diabaikan
lalu kemudian dicampakkan
oleh ego seorang anak manusia

Kemasi kasihmu, hai hatiku..
Satu hal yang harus kau tahu,
Seorang yang benar mencintaimu tak akan menyakitimu
Untuk alasan apapun.

Dan
Kau harus tahu
siapa yang setia mendampingimu
Dalam keadaan apapun..


-kisah sebuah hati dalam perjalanannya, 21.12.13-



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pilihan

“Apa lagi yang kamu mau?” tanya Anya pada laki-laki di hadapannya.
“Aku…, aku ingin kamu berada disampingku lagi” jawab laki-laki itu.
Hening.
Kemudian laki-laki itu berkata, “Aku sadar aku salah. Aku tak bisa hidup tanpa kamu. Aku membutuhkan kamu untuk melengkapi hidupku”.
“Setelah semua yang kamu lakukan padaku, dulu?” ujar Anya, terdengar helaan nafas panjang. Pikirannya melayang memutar rangkaian memory yang pernah terjadi di hidupnya beberapa tahun silam. Ia dan Duta, pria di hadapannya, pernah menjalin sekian tahun hubungan istimewa. Mereka adalah pasangan yang saling melengkapi satu sama lain. Perbedaan adat dan keyakinan tidak menghalangi mereka menjalani hubungan itu, justru perbedaan itu menjadi pemanis hubungan keduanya.

Anya, perempuan yang sangat mencintai Duta dan telah memantapkan hatinya pada kekasihnya itu. Dalam hatinya ia bersedia menghadapi apapun resiko yang akan mereka hadapi jika Tuhan akhirnya menyatukan mereka dalam pernikahan beda keyakinan, pun jika akhirnya ia harus mengikuti keyakinan Duta sang kekasih hati.
Duta, adalah seorang pria yang sangat mencintai Anya dengan seluruh jiwanya. Baginya, Anya adalah segalanya. Apapun sanggup ia berikan untuk Anya. Hanya saja keinginan keluarganya agar ia menikah dengan orang yang satu suku dengannya membuat keinginan terbesarnya memiliki Anya sebagai pendamping hidup menjadi gamang. Ia yg tak pernah sanggup meninggalkan Anya, akhirnya melibatkan orang ketiga dalam hubungannya dengan Anya dengan harapan Anya akan membencinya dan meninggalkannya. Memang akhirnya ia ditinggalkan, tapi kecintaannya terhadap Anya membuatnya terpuruk dan merasa sangat bersalah. Dan waktu tidak mampu menghilangkan perasaaan cintanya. Ia menyadari bahwa Anya selalu menjadi separuh bagian dari dirinya. Ia hanya bahagia bila Anya berada di sampingnya.

“Aku minta maaf dengan sepenuh hatiku, aku ingin mendampingi sepanjang hidupmu. Hanya itu alasan satu-satunya yg kumiliki.” ujar Duta.
Dengan tatapan penuh kasih Anya berkata, “Duta sayangku, perasaanku terhadapmu memang tak pernah berubah sedikitpun. Bagaimanapun kamu, aku tetap mencintaimu..”
Kemudian keduanya terdiam.
“Hanya saja, aku memilih untuk bahagia. Dengan atau tanpa kamu di dalamnya.” lanjut Anya kemudian. Dengan perlahan ia mengeluarkan sebuah undangan pertunangan dan memberikannya pada Duta, laki-laki yang selalu dicintainya sepenuh jiwa.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Akhir

Adrian, seorang pria tampan dari keluarga berada yang diliputi kegelisahan. Sudah sejak lama ia dirudung kebimbangan. Keluarganya memintanya segera menikahi gadis yang telah dipilihkan untuknya, yang sesuai dengan kriteria sang ibu yaitu satu adat dan seagama.

Keluarganya adalah kristiani yang taat, sementara ia adalah tipikal pria dengan pemikiran yang liberal. Walaupun mengetahui adat, tetapi baginya cinta tidak seharusnya memandang suku dan agama. Karena sejatinya Tuhan tahu mana yang terbaik bagi umatnya.

Dalam hatinya, telah lama hadir seorang kekasih yang teramat ia cintai, Kirana nama gadis itu. Menjalin kasih semenjak dari bangku sekolah menengah hingga keduanya pada usia dewasa awal. Kirana, seorang gadis yang dibesarkan dari keluarga muslim. Walaupun mereka memiliki keyakinan yang berbeda, tapi mereka mampu membiaskan perbedaan-perbedaan yang ada. Di hati kecilnya tiada gadis lain yang ia inginkan untuk menjadi pendamping kecuali Kirana.

Adrian, seorang pria tampan yang bimbang. Satu sisi ia ingin membahagiakan ibunya dengan memenuhi harapan ibunya, tapi di sisi lain ia ingin mengikuti kata hatinya dengan menikahi gadis pilihannya.

Pada saat yang ditentukan, ketika Adrian akhirnya harus menentukan pilihan karena hari ini adalah hari dimana keluarga Adrian akan mengunjungi keluarga gadis pilihan ibunya. Adrian termenung. Hati kecilnya berontak, menolak perjodohan ini. Ia tahu ibunya pasti menentang keputusannya, tapi ia tak ingin kebahagiaannya dipertaruhkan seumur hidup dengan menikahi gadis yang tidak ia cintai.

Ia membulatkan tekad untuk menolak pertemuan ini. Ia ingin menikahi Kirana, sang pujaan hatinya. Adrian perlahan mendekati ibundanya, mengutarakan keinginannya kepada sang ibu. Dengan keras sang ibu menentang keinginan putra bungsunya. Yang beliau inginkan adalah kepatuhan dari sang anak yang telah dikandungnya. Adrian teguh pada kemauannya. Bukan ia tak ingin berbakti pada orang yang telah melahirkan dan merawatnya selama ini, tapi baginya banyak cara untuk menunjukkan baktinya pada sang ibu. Jika ibunya ingin melihat ia bahagia, ia ingin bahagia sesuai dengan cara yang ia pilih. Apapun konsekuensi yang harus ia hadapi, ia akan menerima dengan lapang.

Diiringi airmata sang ibu, Adrian hengkang dari rumahnya yang nyaman, ia mengejar mimpinya untuk menikahi Kirana dan hidup bahagia dengannya. Dalam perjalanan, hatinya dipenuhi keraguan. “Apakan Kirana masih menyimpan hatinya untukku? Apakah ia masih mencintaiku seperti dahulu setelah semua yang kulakukan padanya?” batin Adrian. Keragu-raguan mulai menerpanya mengingat ia pernah melakukan kesalahan yang dinilai fatal oleh Kirana. Namun segera ia tepis keraguan itu, karena seperti apapun perubahan yang terjadi pada diri Kirana, ia akan selalu menyisakan tempat untukku dihatinya, bisik hati Adrian yang lain.

Kemudian, tibalah ia didepan teras rumah bercat putih itu. Masih dengan rupa yang sama seperti ketika ia terakhir kali singgah di rumah itu. Perlahan ia mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Beberapa lama kemudian tampak seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuknya dan mempersilahkan masuk. Ia mengenali wanita itu sebagai Tante Vien, ibu Kirana. Ketika pertama kali melihat Adrian, tampak semburat kesedihan pada diri Tante Vien. Setelah menyampaikan salam, Adrian mengutarakan maksudnya untuk menemui Kirana. Gurat kesedihan semakin jelas terlihat di wajah tante Vien.

“Kiran telah pergi, nak Adrian. Ia pergi membawa kebahagiaannya sendiri.” Tante Vien memulai ucapannya. “Setelah perpisahan kalian, yang  Tante tahu Kiran sangat terpukul.” Ucap tante Vien dengan tangis perlahan. “Tak lama setelah itu, Kiran memutuskan untuk pergi berlibur seorang diri, menjalankan hobinya travelling dan melakukan kegiatan-kegiatan ekstrim yang entah sejak kapan dikenalnya. Karena kesibukan dalam pekerjaannya tak mampu membuat ia melupakan nak Adrian. Sampai satu waktu, ketika Kiran sedang pergi berlibur ia mencoba buggy jumping di sebuah jembatan, tali yang seharusnya sanggup menahan tubuh kecilnya terputus dan menghempaskan tubuhnya keatas batu-batuan dengan sangat keras. Ia meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.” Isak tangis Tante Vien semakin terdengar.

Tante Vien kemudian memberikan sebuah kotak kepada Adrian. Kotak yang berisi sebuah buku dan secarik surat bertuliskan namanya. “Tante menemukan ini ketika membereskan kamar Kiran. Mungkin ada yang ingin ia sampaikan pada nak Adrian.“ ujar tante Vien.
Perlahan ia membaca surat yang ditujukan Kiran padanya.
              
 “Teruntuk sang pangeran yang mengatasnamakan cinta, Adrian..”

“Sayangku..,
ketika kamu membaca surat ini, mungkin aku telah berada di tempat yang jauh..
Aku tak pernah bermaksud untuk mengingkari janji yang pernah ku ucapkan kepadamu
Karena bagaimanapun, kamu akan selalu memiliki hatiku
gimanapun kamu, dan sesakit apapun luka yang kamu berikan,
aku selalu mencintaimu.
Sekarang, nanti, dan selamanya..”
                                                                                                                               
                                                                                                   Love,
                                                                                                -Kirana-

Adrian hanya mampu termangu menatap buku yang diberikan Kirana untuknya. Dibukanya lembar demi lembar buku itu yang ternyata berisi curahan hati Kirana tentang dirinya lengkap dengan foto dan gambar khas Kirana.

Tanpa terasa bulir-bulir air mata mulai membasahi pelupuk matanya. Teringat akan kenangan yang dimilikinya akan Kirana, impian dan harapan yang pernah ia bangun bersama Kirana, janji yang pernah ia ucapkan pada Kirana, kesalahan dan penghianatan yang pernah ia lakukan terhadap Kirana. Hatinya menjerit menyesali perbuatannya terhadap Kirana. Menyesal tanpa pernah sempat meminta maaf ataupun melihatnya untuk yang terakhir kali. Penyesalan yang sepertinya tak akan pernah berujung bagi Adrian, sang pemuda tampan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS