Satu ketika seorang teman, sebut saja Ressa
bercerita kalau dia dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang pria bernama
Chandra. Padahal saat ini Ressa sedang menjalin hubungan dengan Rio dan telah
berlangsung lama. Hanya saja, orang tua Ressa tidak menyetujui hubungan
tersebut dengan alasan Rio bukan berasal dari keluarga yang sederajat dengan
keluarganya. Ressa tidak menerima perjodohan tersebut karena selain tidak
pernah kenal dan bertemu muka dengan Chandra, ia juga telah merasa cocok dengan
pribadi Rio dan sulit untuk dipisahkan.
Kini Ressa menghadapi dilema yang
cukup membuatnya pusing tujuh keliling. Di satu sisi ia ingin menjalani
kehidupan impiannya sendiri, sebagai seorang individu bebas. Tapi di sisi lain
ia tidak ingin mengecewakan orang tua yang telah membesarkannya. Saya memang
tidak mengalami langsung apa yang dihadapi Ressa, tapi saya juga akan merasakan
kebingungan yang sama jika dihadapkan pada situasi tersebut.
Zaman memang sudah banyak berubah,
tapi tampaknya slogan bukan Siti Nurbaya kembali beredar karena
perjodohan kembali menghiasi cerita percintaan anak muda masa kini. Ressa dan
ceritanya mengingatkan saya pada sebuah cerita dulu, ketika zaman masih belum
seperti sekarang dimana orang tua masih dengan pemikiran sempitnya mengenai
perjodohan dan si anak harus menerima apa yang telah menjadi kehendak orang
tuanya yang akhirnya hidup si anak berakhir tragis dan tidak bahagia.
Perjodohan dan segala hal di dalamnya
akan memberikan efek positif apabila ternyata kedua anak yang dijodohkan saling
menyukai ataupun menerima perjodohan tersebut sehingga akan menimbulkan
kebahagiaan bagi pasangan yang menjalaninya. Tetapi perjodohan juga akan
bersifat negatif jika ternyata ada pihak yang tidak menerima
perjodohan tersebut kemudian terpaksa menjalaninya dengan rasa tidak bahagia
dan berakhir dengan perselingkuhan, perceraian, bahkan kematian.
Sebagai manusia, pada hakikatnya kita
adalah individu bebas. Bebas untuk berpendapat, bebas untuk berkarya, dan bebas
untuk bertindak asalkan kebebasan tersebut dijalani dengan penuh tanggung jawab
dan tidak bersinggungan dengan hak dan kepentingan orang lain
Namun, pada kenyataannya di
budaya timur kebebasan itu tidaklah bersifat murni. Kita bukan individu bebas
karena kehidupan kita lebih banyak diatur oleh orang tua. Mulai dari sekolah,
sampai pasangan hidup pun terkadang ada campur tangan orang tua di
dalamnya. Niat dan keinginan orang tua
sebenarnya, ingin melihat anaknya hidup bahagia tapi ada kalanya keinginan
tersebut dibarengi dengan kepentingan pribadi, pada kasus Ressa mungkin untuk
mempertahankan derajat keluarga.
Saya tidak membenarkan ataupun
menyalahkan sikap orang tua Ressa, namun alangkah lebih bijaksana jika bentuk
kasih sayang dan perhatian tersebut disalurkan dengan cara yang lebih dewasa
dengan membiarkan Ressa menjalani hidupnya sendiri sesuai dengan harapannya
selama berada di jalur yang benar. Bukankah tujuan Ressa dan orang tuanya
adalah sama, yaitu melihat Ressa hidup bahagia..






