“Aku
sayang sama kamu, melebihi apa yang kamu ketahui tentang aku Shaira..”, pria
itu mencoba meyakinkan wanita dihadapannya.
“Emm…”,hanya
itu kata yang meluncur dari bibir mungil wanita itu.
“Aku
serius sayang.. tak pernah sedetikpun aku berhenti memikirkan kamu, sampai saat
ini. Aku menyesali semua yang pernah terjadi di antara kita. Aku menyesali
perpisahan itu. Hidupku bahkan tidak lagi sama seperti saat bersama kamu.”,lanjut
pria itu.
“Bukannya
kamu yang menginginkan perpisahan itu?!”, ujar Shaira sambil memainkan sendok ice
cream kesukaannya yang telah sedari tadi menggoda selera makannya.
“Aku
tak pernah benar-benar menginginkannya sayang, kamu sendiri tahu itu..”
“Tapi
sikapmu yang menduakanku tidak mendukung semua perkataanmu hari ini.”, potong
Shaira. Pria itu hanya tertunduk lesu kemudian berkata, “Aku berusaha
memberikanmu yang terbaik, membuatmu mengenal baik dan burukku. Hanya itu
maksudku.”
“Memberikan
yang terbaik dalam pengertianku adalah dengan tidak menyakiti perasaan orang
lain, terlebih orang yang kita sayang dan tidak pernah membiarkannya terluka
dengan segala sikap maupun ucapan kita. Lantas apakah dengan memberikan luka
yang sama di tempat yang sama adalah cara memberikan yang terbaik dalam
pengertianmu? Ataukah aku yang terlalu berharap besar terhadapmu bahwa kamu
akan selalu menjadi pangeran terbaik yang pernah dimiliki oleh seorang
perempuan?” ujar Shaira lemah.
“Apalagi
yang kamu inginkan sekarang, David? Apa kamu sudah lelah mencari? Ataukah
perempuan yang kamu kencani sekarang tak membuatmu berhenti untuk mencari yang terbaik?”, lanjutnya.
“Aku..
aku tak bisa berhenti untuk selalu memikirkan kamu. Semuanya tak sama tanpa kamu.
Dia yang kuharapkan bisa menggantikan kamu ternyata tak seperti yang
kubayangkan. Aku bersalah kepadamu.. aku sangat mencintai kamu dan berharap
kamu memafkan kesalahanku. Aku menyadari kesalahanku, kamu adalah nafasku.. aku
tak pernah bisa lega tanpa ada kamu. Kehilangan kamu lambat laun membuat hidupku tak seimbang, aku terlambat menyadari bahwa kamu adalah
yang terbaik dalam hidupku”, lelaki itu menatap sorot lembut sepasang mata
hitam perempuan di hadapannya, mencoba menemukan kembali cinta dari perempuan
yang tak pernah lepas dari hatinya.
“Sikapmu
sudah terlalu menyakiti hatiku David,
your word mean nothing when your action
are the complete opposite..”,ucap Shaira perlahan diiringin tatapan lekat
dari lelaki yang selalu dicintainya.
-Bogor, 281214-






