Kata orang benci dan cinta
hanya dipisahkan oleh sebuah garis tipis. Begitu pula yang dirasakan oleh
Athena terhadap Idham. Athena dan Idham telah menjalani sekian tahun hubungan
yang special. Mereka tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Walaupun
berasal dari suku yang berbeda, tetapi perbedaan yang ada semakin melengkapi
keduanya. Idham telah menjadi separuh bagian dari diri Athena, begitupun
sebaliknya. Jika saja Tuhan memberikan jalan untuk mereka dan adat di negeri
ini memperbolehkan perkawinan campuran, tentulah mereka akan bersatu dalam
ikatan pernikahan yang suci. Namun cerita indah keduanya hanya tinggal cerita,
kenyataan yang ada membuat mereka menggunakan logika dibanding perasaan yang
ada. Mereka berpisah, bukan karena tak lagi saling mencinta tetapi karena
keadaan yang memaksa. Keinginan untuk berbakti terhadap orang tua membuat
mereka mengalah dan melepaskan keinginan untuk saling memiliki. Ya, untuk
sesaat mereka mengalah hingga ketika tangan Tuhan bekerja. “Dengan demikian,
mereka bukan lagi dua, tetapi satu. Allah telah menjadikan mereka satu. Apa
yang dipersatukan Allah, tidak ada yang dapat memisahkannya.Matius 19:6.” Itu yang
mereka yakini.
Tak ada yang salah dengan
perpisahan itu, hanya cara yang Athena sesalkan dari Idham. Dengan alasan yang
tak masuk akal untuk Athena, Idham menyertakan pihak ketiga dalam
perpisahannya. Walaupun mungkin hubungan Idham dengan pihak ketiga itu tak
seperti bayangannya tapi kekecewaan Athena terhadap Idham sudah demikian dalam.
Rasa sayang yang dulu selalu membuncah di hatinya untuk Idham kini berganti
dengan benci. Sedemikian besarnya rasa sayang Athena, sebesar itu pula rasa
benci yang kini hadir. Ia tahu semua tak akan pernah sama, walaupun jika suatu
ketika Tuhan menjadikan mereka satu, perlu usaha yang kuat untuk meyakinkan
dirinya agar bisa menerima Idham kembali.
Penghianatan yang Idham
lakukan, sedikit banyak membuat penilaiannya terhadap laki-laki lebih negatif.
Dan terkadang luka yang Idham berikan, masih bisa ia rasakan. Dalam kesendiriannya,
ia selalu berpikir kejadian demi kejadian yang terjadi dihidupnya. Kadang ia
tak habis pikir mengapa Idham tega melakukan semua hal ini terhadapnya. Padahal
selama menjalani hubungannya dengan Idham, ia selalu berusaha memberikan yang
terbaik dan selalu ada saat Idham membutuhkan kehadirannya.
Tapi kemudian ia tersadar,
segala sesuatu yang terjadi bukan tanpa alasan. Selalu ada hikmah tersembunyi
yang bisa dipetik. Walaupun sampai saat ini ia belum bisa memaafkan semua
kesalahan Idham terhadapnya, tapi ia berusaha untuk tetap tegar. Karena yang
terjadi dalam hidup akan menempa setiap individu menjadi pribadi yang lebih
dewasa. Meski untuk Athena ini berarti menyimpan rasa cinta dan impiannya untuk
hidup bersama orang yang dicintainya terkubur di sudut hati yang
terdalam.
Athena tak pernah tahu apa
yang akan terjadi selanjutnya. Hanya Tuhan yang tahu isi hatinya sekarang dan
cerita kehidupannya nanti. Ia hanya membiarkan tangan Tuhan bekerja dan
menentukan yang terbaik untuknya.
Perasaan Athena saat ini mungkin
sedikit banyak digambarkan oleh lirik dalam lagu Afgan: