“Are you sure?” tanya Shakia sahabatku.
“Yes, I’m sure.” Jawabku.
“Tapi dear, dia bukan satu-satunya laki-laki di dunia ini yang pengen
jadi pendamping kamu! Look at him, he’s
so not you!” ujarnya.
“Kenapa?” aku balik bertanya.
“Please Petra, kamu bisa mendapatkan yang lebih dari dia. Dia bukan
tipe kamu. Beda banget sama mantan-mantan kamu yang sebelumnya. Jauh beda sama
Daffa.” Tukasnya kemudian.
“Well..?” ujarku.
“Ya.. lantas kenapa kamu memutuskan
untuk menerima lamarannya? Aku bisa cuma ngga habis pikir dengan apa yang kamu
lakukan.” Jawabnya setengah bergumam.
“Hmm..” gumamku.
“Petra, aku tanya sekali lagi. Kamu
yakin mau ngelakuin ini? Kamu yakin mau nikah sama Ardi? Kamu yakin ngasiin
hidup kamu ke orang yang bahkan sama sekali ngga berjuang untuk ngedapetin
kamu?”
“Iya..” jawabku.
“Come on dear, I’m serious!”ujarnya.
“…”, “Shakia, I’ve learn a lot from the past. Mungkin benar seperti yang kamu
bilang, Ardi tidak seperti mantan-mantan aku terdahulu. Satu hal yang harus
kamu sadari bukan berarti dia ngga berjuang untuk ngedapetin aku. Walau tanpa
kompetisi, tapi dia berjuang untuk ngedapetin hati aku dari diri aku sendiri. Biarpun
selama ini aku ngga pernah ngasi perhatian ke dia, ataupun selalu ada pria lain
yang mampir di hidupku..tapi dia ngga pernah benar-benar pergi dari hidupku.”
“Dan itu alasan kamu menerima
lamaran untuk menjadi pendamping hidupnya?”
“Ngga, tapi aku menyerah. Aku yang
nyerahin diri aku kepada dia.” Ujar
Petra sambil tersenyum.
-Bogor, 200914-






