Bandung dan beragam pesonanya
selalu mempunyai tempat di hati saya. Selain karena saya memang dilahirkan
disana, berjuta kenangan terukir di kota yang di kenal dengan sebutan Paris van Java itu. Saya memang
dibesarkan di bumi parahyangan, tepatnya di ibukota priangan timur. Tetapi, Bandung
sudah mendarah daging dalam diri saya.
Bandung memang tidak akan pernah
ada habisnya. Walaupun tingkat kemacetan semakin tinggi karena semakin
banyaknya wisatawan yang datang pada masa liburan dan weekend, banjir yang datang ketika musim hujan, tidak akan
mempengaruhi kecintaan saya terhadap kota ini. Berbicara mengenai Bandung, tak
lengkap juga jika tidak membicarakan kulinernya yang semakin beragam dari hari
ke hari, mulai dari makanan ringan sampai makanan berat. Mulai dari masakan
tradisional Indonesia, sampai mancanegara. Beberapa yang menjadi favorit saya diantaranya
adalah:
1. HDL
293 Seafood, masakan serba seafood yang selalu memanjakan lidah ini harganya
emang bersaing banget. Tapi, seperti pepatah, harga memang ga pernah bohong. J
Istimewanya, ikan dan kepiting yang dimasak disini biasanya fresh jadi berasa makan
tangkapan laut di pinggir pantai, haha. Mulai dari ikan baronang, kerapu, cumi,
udang dan tentu saja yang tidak boleh ketinggalan dipesan adalah kepiting. Nah
yang jadi menu andalan disini adalah kepiting asap, dengan bumubu yang bisa dipilih
sesuai selera seperti saus singapore, asam manis, saus padang.
2. Suis
Butcher, tempat steak yang satu ini punya arti lebih buat saya. Selain tentu
saja steak yang lezat yang selalu memanjakan lidah saya, disini juga merupakan
tempat pertama kali saya merayakan hari yang sangat istimewa. J
Steak
yang ditawarkan disini sangat beragam,mulai dari T-bone steak, Lamb Chop,
Cordon Bleu, pasta, dessert yang manis dan menu lain yang menggugah selera.
![]() |
| T-Bone Steak |
3. Ayam
Penyet & Cobek Pak Kumis, bentuknya sih seperti warung tenda biasa yang
menjual ayam. Tapi pelayanannya yang serba cepat dan ramah bikin pengunjung
yang dateng ga bosen nunggu makanan dateng walaupun kadang pengamen dateng
silih berganti. Menunya cukup beragam, mulai dari ayam, bebek, sampai tahu dan
tempe. Saya biasa pesan ayam goreng penyet, ayamnya goreng yg renyah dipenyet
dengan sambal yang menggoda disajikan dengan selada, timun dan jeruk nipis. Tak
lupa tahu, tempe dan usus goreng sebagai pelengkap.
4. BMC
(Bandoengsche Melk Centrale), resto legendaris kota Bandung sejak jaman Belanda
yang kini tidak hanya menyajikan penganan dari susu tapi juga masakan perpaduan
Indonesia-Belanda dengan bangunan Art Deco (sekarang termasuk ke dalam cagar
budaya kota Bandung) yang unik untuk dikunjungi. Yang khas dari sini itu olahan
dari susu sapinya. Yoghurt berbagai rasa dan variasi ada disini. Saya biasa
memesan Leci Cocktail Yoghurt, yaitu yoghurt rasa leci ditambah buah leci asli
yang rasanya seger dan kefir aneka rasa yang juga patut untuk dicoba.
Selain tempat-tempat yang saya
sebutkan, masih banyak tempat makan yang lain yang bisa dipilih sesuai selera,
seperti Sushi Tei dan Sushi Den bagi penggemar Sushi, Kedai Ling-ling dan
Gokana Ramen bagi pecinta Ramen, Tudari dan Rumah Lezat Simplicio bagi penggemar masakan negara lain, The Harvest untuk penyuka cokelat, nasi cikur Basajan (dengan nasi cikur dan tim peda sebagai menu andalan) dan Bancakan untuk penggemar masakan khas tanah sunda.
Bandung tidak hanya memberikan referensi
kuliner yang beragam untuk saya, tetapi juga memberikan saya pasangan pecinta
kuliner yang hebat, mengajarkan hidup mandiri, mengenalkan persahabatan,
memberikan arti mendalam akan sebuah hubungan, memperkaya wawasan dan
pergaulan, ilmu pengetahuan. Walaupun pada akhirnya Bandung juga yang
menghianati kasih saya, tapi kecintaan saya terhadap kota ini tidak pernah
berubah. Selain karena banyak hal yang telah saya alami di Bandung, juga karena
suasananya yang nyaman yang selalu membuat saya ingin terus kembali ke kota
ini. Tak heran jika akhirnya saya selalu berbisik, “Bandung I’m in love”. J








