“Bienvenue dans
mavie, tout est brilliant ici.. “ terdengar
suara panggilan masuk dari ponsel perempuan itu. Ia yang sedari tadi sedang
mengerjakan pekerjaan kantornya, dengan sedikit malas kemudian beranjak dari
kursinya mendekati tempat tidur dimana ponselnya berada.
Angga..
nama itu tertera dilayar ponselnya. Dengan sedikit mengernyitkan dahi ia
menekan tanda reject di ponselnya.
Belum sempat ia beranjak, ponselnya kembali berdering dengan nama yang sama. Ia
kemudian menekan tombol yang sama seperti sebelumnya.
Angga,
sebuah nama yang selalu membangkitkan kenangan di benak perempuan itu. Sebuah
nama yang pernah membuat hidupnya begitu bahagia, pun menjadi sebuah nama yang
pernah meninggalkan luka yang menganga di hatinya. Kini nama itu muncul kembali
di layar ponselnya, sekian lama mereka tidak pernah berkomunikasi setelah
kejadian terakhir beberapa tahun lalu. Dengan suara yang dibuat setenang
mungkin ia kemudian menjawab panggilan itu.
“Halo!”
ucapnya.
“Halo
April, apa kabar?” terdengar suara diseberang sana,masih dengan kehangatan yang
sama seperti beberapa tahun yang lalu.
“Baik,
kamu apa kabar?” perempuan itu berusaha berbasa-basi.
“Aku
baik, lagi apa nih? Ganggu ngga aku telepon kamu?”
“Hmm,
lagi ngerjain kerjaan kantor ada yang mesti aku siapin buat meeting besok. Ada apa nih, tumben nelepon aku? Ada yang bisa
aku bantuin?” jawab perempuan itu.
“Ah
ngga, lama aja ngga denger kabar kamu. Daripada aku denger berita simpang siur
kan mendingan aku cari tahu sama orangnya langsung, lagian aku kangen sama
kamu.” Ucap suara di seberang sana seolah tanpa beban.
Dengan
perasaan yang sedikit tak menentu perempuan itu kemudian menjawab “Ah kamu
gombal, becanda aja ah. mana mungkin kamu kangen sama aku.”
“Serius
aku kangen sama kamu, aku kangen semua
tentang kamu.”
Perasaannya
semakin tak menentu mendengar jawaban hangat laki-laki yang tak pernah berhenti
ia cintai. Dengan suara yang dibuat setenang mungkin ia berusaha mengalihkan
pembicaraan “ Eh apa kabarnya Rara? Kamu masih sama dia kan?”
“…”
hening
“Angga,
are you okay?” tanya perempuan itu
kemudian.
“…
I’m fine April, kabar Rara terakhir
baik tapi aku ngga tau kabarnya sekarang.” Jawabnya.
“
Loh ko bisa gitu?” tanya perempuan itu.
“Tiga
bulan sejak kejadian malam itu, aku ninggalin Rara. Dia yang pernah aku pikir
bisa gantiin kamu, ternyata malah semakin bikin aku ngga bisa berhenti mikirin
kamu. Aku merasa sangat bersalah sama kamu. Aku berusaha bikin kamu benci aku
dengan ngejadiin Rara sebagai alasan kita berpisah, tapi ternyata tak mampu membuat
aku menepis bayangan kamu. Semua sudah aku coba untuk ngelupain kamu tapi aku
ngga bisa. Bahkan beberapa tahun ini aku berusaha untuk menyibukkan diri dengan
memulai kembali hobiku, membuka diri mendekati perempuan lain dan berusaha
untuk menjauhkan diriku dari semua yang berhubungan dengan kamu tapi nyatanya
itu tak mudah. Terlalu banyak kenangan yang pernah kita lalui, dan terlalu jauh
aku mencintai kamu sampai aku ngga bisa lepas dari kamu. Sampai saat ini aku
masih mencintai kamu, April. Kamu yang selalu menjadi penyemangatku. ” jelas
suara diseberang sana tanpa diminta.
“Aku
kangen kamu, kangen senyuman kamu, marahnya kamu sama aku, aku kangen semua
tentang kamu..” ujarnya kemudian, berusaha membuka kembali kenangan yang pernah
ada diantara mereka.
April
terhenyak mendengar pengakuan dari lelaki itu. Ada sedikit perasaan rindu akan
kehadiran Angga di hidupnya, tetapi ia segera menepis perasaan itu. Bukan karena
ia tak lagi mencintai laki-laki itu, walaupun ia pernah terluka tapi
perasaannya terhadap Angga tak pernah berubah. Hanya saja, ia tak ingin terluka
untuk kedua kali dengan alasan yang sama. Ia telah menerima dengan sadar bahwa
jika ia memang berjodoh dengan Angga, maka Tuhan akan menuntun mereka untuk
bersatu kembali.
Ia
meraih sebuah foto disamping tempat tidurnya. Dipandanginya foto itu untuk
beberapa lama, Rafi kekasihnya yang selama setahun terakhir mengisi kekosongan
dihidupnya dan menjadi teman disaat ia terpuruk oleh cintanya terhadap Angga.
“April,
are you there?” terdengar suara Angga
diseberang sana.
“…”
perempuan itu hanya terdiam dan menjawab dalam hatinya “Sorry Angga, the memories that you request has been deleted by the
other person that related to..”
-Bogor, 010215-