RSS

Akhir

Adrian, seorang pria tampan dari keluarga berada yang diliputi kegelisahan. Sudah sejak lama ia dirudung kebimbangan. Keluarganya memintanya segera menikahi gadis yang telah dipilihkan untuknya, yang sesuai dengan kriteria sang ibu yaitu satu adat dan seagama.

Keluarganya adalah kristiani yang taat, sementara ia adalah tipikal pria dengan pemikiran yang liberal. Walaupun mengetahui adat, tetapi baginya cinta tidak seharusnya memandang suku dan agama. Karena sejatinya Tuhan tahu mana yang terbaik bagi umatnya.

Dalam hatinya, telah lama hadir seorang kekasih yang teramat ia cintai, Kirana nama gadis itu. Menjalin kasih semenjak dari bangku sekolah menengah hingga keduanya pada usia dewasa awal. Kirana, seorang gadis yang dibesarkan dari keluarga muslim. Walaupun mereka memiliki keyakinan yang berbeda, tapi mereka mampu membiaskan perbedaan-perbedaan yang ada. Di hati kecilnya tiada gadis lain yang ia inginkan untuk menjadi pendamping kecuali Kirana.

Adrian, seorang pria tampan yang bimbang. Satu sisi ia ingin membahagiakan ibunya dengan memenuhi harapan ibunya, tapi di sisi lain ia ingin mengikuti kata hatinya dengan menikahi gadis pilihannya.

Pada saat yang ditentukan, ketika Adrian akhirnya harus menentukan pilihan karena hari ini adalah hari dimana keluarga Adrian akan mengunjungi keluarga gadis pilihan ibunya. Adrian termenung. Hati kecilnya berontak, menolak perjodohan ini. Ia tahu ibunya pasti menentang keputusannya, tapi ia tak ingin kebahagiaannya dipertaruhkan seumur hidup dengan menikahi gadis yang tidak ia cintai.

Ia membulatkan tekad untuk menolak pertemuan ini. Ia ingin menikahi Kirana, sang pujaan hatinya. Adrian perlahan mendekati ibundanya, mengutarakan keinginannya kepada sang ibu. Dengan keras sang ibu menentang keinginan putra bungsunya. Yang beliau inginkan adalah kepatuhan dari sang anak yang telah dikandungnya. Adrian teguh pada kemauannya. Bukan ia tak ingin berbakti pada orang yang telah melahirkan dan merawatnya selama ini, tapi baginya banyak cara untuk menunjukkan baktinya pada sang ibu. Jika ibunya ingin melihat ia bahagia, ia ingin bahagia sesuai dengan cara yang ia pilih. Apapun konsekuensi yang harus ia hadapi, ia akan menerima dengan lapang.

Diiringi airmata sang ibu, Adrian hengkang dari rumahnya yang nyaman, ia mengejar mimpinya untuk menikahi Kirana dan hidup bahagia dengannya. Dalam perjalanan, hatinya dipenuhi keraguan. “Apakan Kirana masih menyimpan hatinya untukku? Apakah ia masih mencintaiku seperti dahulu setelah semua yang kulakukan padanya?” batin Adrian. Keragu-raguan mulai menerpanya mengingat ia pernah melakukan kesalahan yang dinilai fatal oleh Kirana. Namun segera ia tepis keraguan itu, karena seperti apapun perubahan yang terjadi pada diri Kirana, ia akan selalu menyisakan tempat untukku dihatinya, bisik hati Adrian yang lain.

Kemudian, tibalah ia didepan teras rumah bercat putih itu. Masih dengan rupa yang sama seperti ketika ia terakhir kali singgah di rumah itu. Perlahan ia mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Beberapa lama kemudian tampak seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuknya dan mempersilahkan masuk. Ia mengenali wanita itu sebagai Tante Vien, ibu Kirana. Ketika pertama kali melihat Adrian, tampak semburat kesedihan pada diri Tante Vien. Setelah menyampaikan salam, Adrian mengutarakan maksudnya untuk menemui Kirana. Gurat kesedihan semakin jelas terlihat di wajah tante Vien.

“Kiran telah pergi, nak Adrian. Ia pergi membawa kebahagiaannya sendiri.” Tante Vien memulai ucapannya. “Setelah perpisahan kalian, yang  Tante tahu Kiran sangat terpukul.” Ucap tante Vien dengan tangis perlahan. “Tak lama setelah itu, Kiran memutuskan untuk pergi berlibur seorang diri, menjalankan hobinya travelling dan melakukan kegiatan-kegiatan ekstrim yang entah sejak kapan dikenalnya. Karena kesibukan dalam pekerjaannya tak mampu membuat ia melupakan nak Adrian. Sampai satu waktu, ketika Kiran sedang pergi berlibur ia mencoba buggy jumping di sebuah jembatan, tali yang seharusnya sanggup menahan tubuh kecilnya terputus dan menghempaskan tubuhnya keatas batu-batuan dengan sangat keras. Ia meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.” Isak tangis Tante Vien semakin terdengar.

Tante Vien kemudian memberikan sebuah kotak kepada Adrian. Kotak yang berisi sebuah buku dan secarik surat bertuliskan namanya. “Tante menemukan ini ketika membereskan kamar Kiran. Mungkin ada yang ingin ia sampaikan pada nak Adrian.“ ujar tante Vien.
Perlahan ia membaca surat yang ditujukan Kiran padanya.
              
 “Teruntuk sang pangeran yang mengatasnamakan cinta, Adrian..”

“Sayangku..,
ketika kamu membaca surat ini, mungkin aku telah berada di tempat yang jauh..
Aku tak pernah bermaksud untuk mengingkari janji yang pernah ku ucapkan kepadamu
Karena bagaimanapun, kamu akan selalu memiliki hatiku
gimanapun kamu, dan sesakit apapun luka yang kamu berikan,
aku selalu mencintaimu.
Sekarang, nanti, dan selamanya..”
                                                                                                                               
                                                                                                   Love,
                                                                                                -Kirana-

Adrian hanya mampu termangu menatap buku yang diberikan Kirana untuknya. Dibukanya lembar demi lembar buku itu yang ternyata berisi curahan hati Kirana tentang dirinya lengkap dengan foto dan gambar khas Kirana.

Tanpa terasa bulir-bulir air mata mulai membasahi pelupuk matanya. Teringat akan kenangan yang dimilikinya akan Kirana, impian dan harapan yang pernah ia bangun bersama Kirana, janji yang pernah ia ucapkan pada Kirana, kesalahan dan penghianatan yang pernah ia lakukan terhadap Kirana. Hatinya menjerit menyesali perbuatannya terhadap Kirana. Menyesal tanpa pernah sempat meminta maaf ataupun melihatnya untuk yang terakhir kali. Penyesalan yang sepertinya tak akan pernah berujung bagi Adrian, sang pemuda tampan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment