RSS

Sebuah Cinta Untuk Ibu

love couple grow old together
Sama seperti awal bulan-bulan sebelumnya, saya terbiasa bertemu dengan para pensiunan negara. Beberapa diantaranya cukup akrab dengan saya karena hampir setiap bulan mereka menghampiri saya dan kami terlibat percakapan-percakapan ringan. Diantara para pensiunan tersebut ada seorang pensiunan yang paling menarik perhatian saya. Sebutlah bapak Andy, beliau terbiasa datang ditemani sang istri dan cucunya. Interaksi dan gesture tubuhnya selalu mengisyaratkan cinta tanpa batas untuk istri tercintanya. Kemudian sambil menggandeng dan menatap penuh cinta terhadap istri yang telah menyelesaikan transaksi hari itu mereka akan berpamitan pada saya. Dan saya selalu menunggu kehadiran mereka kembali di awal bulan berikutnya.


Beberapa bulan yang lalu bapak Andy datang sendirian ke meja saya, wajahnya terlihat murung dan kebingungan. Ketika saya tanyakan penyebabnya, ternyata istrinya telah berpulang meninggalkan dia beberapa hari sebelumnya. Ia yang terbiasa datang dengan istrinya kemudian melakukan transaksi awal bulan yang biasa dilakukan istrinya dahulu. Tampak kesedihan dan rasa kehilangan yang mendalam pada diri bapak Andy, dan saya ikut terlarut dalam cerita kesedihan yang beliau rasakan.


Hari ini, seperti bulan-bulan berikutnya bapak Andy datang pada saya. Saya melihat perubahan drastis pada beliau. Tubuhnya yang dulu bugar dan sehat, sekarang tampak sayu dan lebih kecil. Lantas kami terlibat percakapan ringan seperti biasa, saya tanyakan kondisi beliau yang tampak berbeda. Ini sepenggal percakapan saya dengan beliau:

Saya : ”Bagaimana kabar bapak, sepertinya ada yang berbeda dengan bapak kali ini. Kalau saya tidak salah, bapak kurusan ya pak? Apa bapak sedang kurang sehat?”

Pak Andy (dengan wajah sedih): ”Iya neng, sekarang udah gak ada yang ngurusnya. Ibu pulang lebih dulu ninggalin bapak. Sekarang paling bapak cuma mengunjungi anak bapak aja karena gak ada lagi yang menemani bapak. Sepi neng, gak ada ibu..”. Kemudian beliau termenung.

Saya: “Saya turut merasakan apa yang bapak rasakan, mudah-mudahan ibu berada ditempat terbaik disamping-Nya ya pak, dan semoga bapak selalu diberikan kesehatan dan umur panjang.”

Pak Andy : “Amin, terima kasih atas doanya, neng. Fisik saya sehat tapi batin tidak pernah merasa sehat tanpa ibu. Hidup saya tidak sempurna tanpa ibu... Terima kasih atas bantuan dan doanya, neng”.

Saya : “Sama-sama, bapak Andy”


Sejenak saya terdiam, betapa besar rasa cinta bapak Andy untuk almarhumah istrinya. Mungkin sebesar itu pula rasa kehilangan yang beliau rasakan. Dapat saya bayangkan betapa beratnya perjuangan beliau menghadapi hari-harinya setelah ditinggalkan sang istri. Berpuluh-puluh tahun beliau hidup didampingi sang istri tercinta, dan kini dalam sekejap keadaan itu berbalik. Kecintaannya yang besar terhadap istrinya membuat rasa sakit atas kehilangan istrinya itu, ia rasakan setiap waktu, hanya saja mungkin tidak tampak bagi orang lain.


Ada sedikit perasaan iri terhadap almarhumah istri bapak Andy, beliau selalu dicintai dan ada di hati bapak Andy. Kemudian selintas terpikir akankah ketika saya tua dan akhirnya meninggal ada orang yang bersedih dan mencintai saya seperti bapak Andy terhadap almarhumah istrinya? Mungkin hanya waktu yang dapat menjawab pertanyaan di benak saya.


Hal yang saya pelajari hari ini adalah cinta itu tidak pernah berkesudahan, walaupun orang yang kita cintai meninggalkan kita untuk selamanya tapi rasa cinta itu akan selalu ada sepanjang usia. Dan rasa kehilangan akan orang tersebut meninggalkan luka yang tidak terlihat dihati kita. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 comments:

Billy Koesoemadinata said...

*speechless*

Post a Comment