RSS

Siti Nurbaya



      Satu ketika seorang teman, sebut saja Ressa bercerita kalau dia dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang pria bernama Chandra. Padahal saat ini Ressa sedang menjalin hubungan dengan Rio dan telah berlangsung lama. Hanya saja, orang tua Ressa tidak menyetujui hubungan tersebut dengan alasan Rio bukan berasal dari keluarga yang sederajat dengan keluarganya. Ressa tidak menerima perjodohan tersebut karena selain tidak pernah kenal dan bertemu muka dengan Chandra, ia juga telah merasa cocok dengan pribadi Rio dan sulit untuk dipisahkan.

Kini Ressa menghadapi dilema yang cukup membuatnya pusing tujuh keliling. Di satu sisi ia ingin menjalani kehidupan impiannya sendiri, sebagai seorang individu bebas. Tapi di sisi lain ia tidak ingin mengecewakan orang tua yang telah membesarkannya. Saya memang tidak mengalami langsung apa yang dihadapi Ressa, tapi saya juga akan merasakan kebingungan yang sama jika dihadapkan pada situasi tersebut.

Zaman memang sudah banyak berubah, tapi tampaknya slogan bukan Siti Nurbaya kembali beredar karena perjodohan kembali menghiasi cerita percintaan anak muda masa kini. Ressa dan ceritanya mengingatkan saya pada sebuah cerita dulu, ketika zaman masih belum seperti sekarang dimana orang tua masih dengan pemikiran sempitnya mengenai perjodohan dan si anak harus menerima apa yang telah menjadi kehendak orang tuanya yang akhirnya hidup si anak berakhir tragis dan tidak bahagia.

Perjodohan dan segala hal di dalamnya akan memberikan efek positif apabila ternyata kedua anak yang dijodohkan saling menyukai ataupun menerima perjodohan tersebut sehingga akan menimbulkan kebahagiaan bagi pasangan yang menjalaninya. Tetapi perjodohan juga akan bersifat negatif jika ternyata ada pihak yang tidak menerima perjodohan tersebut kemudian terpaksa menjalaninya dengan rasa tidak bahagia dan berakhir dengan perselingkuhan, perceraian, bahkan kematian. 

Sebagai manusia, pada hakikatnya kita adalah individu bebas. Bebas untuk berpendapat, bebas untuk berkarya, dan bebas untuk bertindak asalkan kebebasan tersebut dijalani dengan penuh tanggung jawab dan tidak bersinggungan dengan hak dan kepentingan orang lain

Namun, pada kenyataannya di budaya timur kebebasan itu tidaklah bersifat murni. Kita bukan individu bebas karena kehidupan kita lebih banyak diatur oleh orang tua. Mulai dari sekolah, sampai pasangan hidup pun terkadang ada campur tangan orang tua di dalamnya. Niat dan keinginan orang tua sebenarnya, ingin melihat anaknya hidup bahagia tapi ada kalanya keinginan tersebut dibarengi dengan kepentingan pribadi, pada kasus Ressa mungkin untuk mempertahankan derajat keluarga.

Saya tidak membenarkan ataupun menyalahkan sikap orang tua Ressa, namun alangkah lebih bijaksana jika bentuk kasih sayang dan perhatian tersebut disalurkan dengan cara yang lebih dewasa dengan membiarkan Ressa menjalani hidupnya sendiri sesuai dengan harapannya selama berada di jalur yang benar. Bukankah tujuan Ressa dan orang tuanya adalah sama, yaitu melihat Ressa hidup bahagia.. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment